Sahabat, ada satu video yang mungkin pernah lewat di timeline-mu dan membuatmu berhenti scrolling sejenak. Bukan video lucu, bukan juga video motivasi. Tapi sebuah video duka. Video seorang pengemudi ojek online (ojol) yang tergeletak di jalanan, menjadi korban kebrutalan orang tak bertanggung jawab. Seketika, kolom komentar dipenuhi amarah, kesedihan, dan satu pertanyaan yang sama: “Semurah itukah nyawa manusia sekarang?“
Perasaan marah dan pilu itu wajar. Karena di balik seragam hijau itu, ada seorang pemuda yang sedang berjuang mencari nafkah halal untuk keluarganya. Ada sebuah nyawa yang sedang menjalankan tugasnya sebagai tulang punggung keluarga.
Tragedi ini bukan sekadar kasus kriminal biasa. Ini adalah cerminan dari sebuah penyakit sosial yang berbahaya, anggapan bahwa nyawa rakyat kecil itu ‘murah’ dan bisa diinjak-injak begitu saja.
Di sinilah Islam datang dengan pandangan yang sangat tegas dan tanpa kompromi. Ini bukan lagi soal etika atau moralitas biasa. Ini adalah soal dosa besar, soal murka Allah, dan soal pertanggungjawaban di hari di mana tidak ada lagi pangkat atau kekuasaan yang bisa menolong. Yuk, kita bedah tuntas, seberat apa hukum menyakiti rakyat kecil dalam timbangan syariat.
Kehormatan Nyawa Manusia
Dalam Islam, nyawa manusia itu suci. Sesakral itu. Allah SWT tidak main-main saat berbicara tentang kehidupan. Dalam Al-Qur’an, ada satu ayat yang saking dahsyatnya, bisa membuat kita merinding jika benar-benar merenungkannya:
“…Barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh umat manusia. Dan barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan seluruh umat manusia…” (QS. Al-Maidah: 32)
Coba kita resapi sejenak, sahabat. Membunuh satu orang yang tidak bersalah, dosanya disamakan dengan membunuh seluruh umat manusia. Sebaliknya, menyelamatkan satu nyawa, pahalanya setara dengan menyelamatkan seluruh umat manusia. Ini adalah standar moral tertinggi yang pernah ada dalam sejarah peradaban.
Prinsip ini disebut Hifzh an-Nafs (menjaga jiwa/kehidupan), dan ia menempati posisi puncak dalam lima tujuan utama syariat Islam (Maqashid al-Shari’ah). Artinya, seluruh aturan dalam Islam, mulai dari shalat, puasa, hingga hukum pidana, pada akhirnya bertujuan untuk melindungi dan memuliakan kehidupan manusia.
Kenapa Menyakiti ‘Rakyat Kecil’ Dosanya Berlipat Ganda?
Jika membunuh satu manusia saja dosanya sudah sedahsyat itu, mengapa hukum menyakiti rakyat kecil punya ‘beban’ dosa yang lebih berat di mata Allah? Jawabannya ada pada konsep keadilan dan kezaliman.
Rakyat kecil—ojol, pedagang kaki lima, buruh harian, pemulung—adalah kelompok mustad’afin, yaitu orang-orang yang lemah dan seringkali tertindas. Mereka tidak punya privilege, tidak punya bekingan pejabat, dan tidak punya kekuatan untuk melawan. Menyerang mereka adalah puncak dari kepengecutan dan kezaliman.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis qudsi, bahwa Allah SWT berfirman:
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku telah menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim)
Ketika seseorang yang kuat menzalimi yang lemah, ia tidak hanya melanggar hak asasi manusia, tapi ia sedang menantang langsung Allah yang telah mengharamkan kezaliman. Dosanya menjadi berlipat ganda karena:
- Dosa kepada korban karena merampas hak hidupnya.
- Dosa kepada keluarga korban karena menghancurkan masa depan dan kebahagiaan mereka.
- Dosa kepada masyarakat karena menebar teror dan ketakutan.
- Dosa langsung kepada Allah karena melanggar larangan-Nya yang paling fundamental.
Rasulullah ﷺ bahkan memberikan perumpamaan yang sangat kuat tentang betapa berharganya nyawa seorang Muslim di mata Allah:
“Sungguh, hancurnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim (tanpa hak).” (HR. Tirmidzi & An-Nasa’i)
Bayangkan, seluruh dunia dengan segala isinya hancur lebur, itu masih dianggap ‘lebih ringan’ oleh Allah dibandingkan tumpahnya darah satu orang mukmin yang tidak bersalah.

Tidak Ada Alasan Pembenaran
Seringkali muncul argumen pembenaran: “Itu kan kejadiannya pas lagi rusuh,” atau “Dia sendiri yang cari gara-gara.” Dalam Islam, tidak ada satu pun alasan yang bisa membenarkan pembunuhan terhadap warga sipil yang tidak bersalah.
Bahkan dalam situasi perang yang paling genting sekalipun, Islam menetapkan etika perang yang sangat ketat. Dilarang membunuh wanita, anak-anak, orang tua, pendeta, bahkan dilarang merusak tanaman dan hewan ternak. Jika terhadap musuh di medan perang saja ada aturannya, apalagi terhadap rakyat sendiri di masa damai?
Oleh karena itu, hukum menyakiti rakyat kecil, apalagi sampai menghilangkan nyawanya, adalah dosa besar (kabair) yang tidak bisa ditawar-tawar, apapun konteks dan situasinya.
Tanggung Jawab Negara
Selain dosa individu bagi pelaku, ada juga dosa kolektif yang dipikul oleh masyarakat dan terutama oleh negara jika gagal memberikan perlindungan. Pemimpin dalam Islam adalah seorang ‘penggembala’ (ra’in), dan ia akan ditanya tentang ‘gembalaannya’.
“…seorang pemimpin adalah penggembala dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya…” (HR. Bukhari & Muslim)
Tanggung jawab utama seorang pemimpin adalah memastikan keamanan dan keadilan bagi warganya, terutama yang paling lemah. Jika rakyat kecil bisa dengan mudah menjadi korban kekerasan di jalanan, itu adalah ‘rapor merah’ bagi negara dalam menjalankan amanahnya. Negara wajib hadir, tidak hanya dengan ucapan belasungkawa, tapi dengan penegakan hukum yang tegas dan tanpa pandang bulu terhadap para pelaku kezaliman.
Baca Juga: Ini Pertanggungjawaban Pemimpin di Akhirat yang Bikin Merinding
Coba Bayangkan Sejenak Jika Itu Terjadi pada Keluarga Kita
Sahabat, untuk benar-benar merasakan betapa kejinya dosa ini, coba kita lakukan satu latihan empati. Bayangkan korban ojol itu adalah ayahmu, kakakmu, atau suamimu. Bayangkan bagaimana hancurnya hatimu saat menerima kabar duka itu, bagaimana masa depan anak-anaknya yang tiba-tiba menjadi gelap.
Rasa sakit inilah yang seharusnya kita rasakan saat mendengar berita tentang penderitaan rakyat kecil. Karena Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan berempati adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakannya dengan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim)
Jika kita masih bisa tidur nyenyak setelah mendengar berita seperti ini, mungkin ada yang perlu kita perbaiki dari keimanan kita.

Membangun Masyarakat yang Beradab dan Penuh Empati
Agar tragedi ini tidak terus berulang, ada tiga pilar yang harus kita bangun bersama:
- Membangun Empati Sosial: Kita harus berhenti bersikap apatis. Kepedulian terhadap nasib rakyat kecil harus menjadi kesadaran kolektif.
- Menegakkan Keadilan Tanpa Pandang Bulu: Aparat penegak hukum harus memberikan hukuman yang setimpal kepada pelaku kekerasan, siapapun dia. Ini akan memberikan efek jera.
- Taubat Nasuha Bagi Pelaku: Islam selalu membuka pintu taubat. Namun, taubat atas dosa kepada manusia punya syarat tambahan: meminta maaf dan kerelaan dari keluarga korban, serta siap menerima konsekuensi hukum di dunia.
Kesimpulan
Sahabat, dari seluruh pembahasan ini, kesimpulannya sangat jelas dan tegas, bahwa hukum menyakiti rakyat kecil dalam Islam adalah dosa besar yang mendatangkan murka Allah. Membunuh satu nyawa tak bersalah sama dengan membunuh seluruh umat manusia.
Nyawa seorang pengemudi ojol, pedagang asongan, atau buruh harian bukanlah angka statistik yang bisa dilupakan esok hari. Mereka adalah amanah Allah yang kehormatannya wajib kita jaga bersama.
Semoga kita semua tidak hanya berhenti pada rasa marah atau pilu sesaat, tapi tergerak untuk ikut serta dalam perjuangan menciptakan masyarakat yang lebih adil, lebih beradab, dan lebih menjunjung tinggi kesucian setiap nyawa manusia, sekecil apapun peran mereka dalam pandangan dunia.
Ubah Amarahmu Menjadi Aksi Nyata untuk Melindungi Mereka!
Melihat tragedi yang menimpa rakyat kecil seringkali membuat kita marah, sedih, dan merasa tidak berdaya. Tapi, Islam mengajarkan kita untuk mengubah perasaan itu menjadi aksi kebaikan yang nyata.
Jika kekerasan di jalanan merenggut nyawa seorang tulang punggung keluarga, maka ada ‘kekerasan sunyi’ lain yang juga mengancam mereka setiap hari, yaitu kemiskinan, kelaparan, dan putusnya akses pendidikan bagi anak-anak mereka.
Di Yayasan Senyum Mandiri, kami berjuang di garis depan untuk melawan ‘kekerasan sunyi’ ini. Kami adalah ‘benteng’ kebaikan yang bisa kamu bangun bersama kami untuk melindungi keluarga-keluarga rentan ini.
Daripada membiarkan amarahmu menguap begitu saja di media sosial, salurkan menjadi energi positif. Donasimu akan kami ubah menjadi:
- Santunan untuk keluarga dhuafa yang kehilangan tulang punggungnya.
- Beasiswa pendidikan untuk memastikan anak-anak mereka tetap bisa sekolah dan meraih cita-citanya.
- Bantuan modal usaha untuk para janda agar bisa mandiri dan berdaya.
Ini adalah cara kita ‘memelihara kehidupan’ seperti yang diperintahkan dalam QS. Al-Maidah: 32. Ini adalah cara kita mengubah duka menjadi harapan.
Yuk, jangan biarkan kemarahanmu sia-sia. Ubah menjadi aksi nyata! Salurkan donasi terbaikmu melalui Senyum Mandiri. Mari kita bersama-sama menjadi ‘pelindung’ bagi rakyat kecil, bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan karya nyata.
Klik Disini atau scan QR Barcode dibawah ini untuk informasi lebih lanjut

“Menebar Sejuta Kebaikan”