Sebelum Jaga Lisan, Yuk, Belajar Dulu Cara Menjaga Hati Biar Selalu Bersyukur

Cara Menjaga Hati – Sahabat, pernah nggak sih denger celetukan, “Mulutmu adalah cerminan hatimu”? Sering banget kita fokus buat jaga omongan biar kedengaran baik, sopan, dan nggak nyakitin. Tapi, kita suka lupa kalau remote control dari semua ucapan dan kelakuan kita itu ya adanya di hati. Ibaratnya, kalau sumber airnya keruh, ya air yang keluar dari keran pasti butek juga.

Kalau hati kita kotor, penuh dengki atau insecure, lisan kita jadi gampang banget nyelekit. Sebaliknya, kalau hati kita adem, penuh rasa syukur, omongan kita pun jadi ikutan nenangin.

Makanya, sebelum kita sibuk-sibuk ngerem omongan, ada baiknya kita belajar dulu cara menjaga hati. Biar apa? Biar hati kita bersih, lapang, dan jadi sumber kebaikan yang nggak ada habisnya.

Kenapa Sih Jaga Hati di Zaman Now Susahnya Minta Ampun?

Jujur aja sahabat. Di era serba digital ini, menjaga hati itu tantangannya luar biasa. Buka Instagram, lihat teman flexing liburan ke Eropa, kita yang di rumah langsung ngerasa hidup ini flat banget. Lihat LinkedIn, teman dapat promosi, hati kita langsung nyesek dan ngerasa jadi remahan rengginang. Paparan kesuksesan orang lain yang nonstop ini bikin kita gampang banget kena penyakit hati.

Ditambah lagi, rutinitas yang padat sering bikin kita lupa buat sekadar duduk diam, zikir, atau ngobrol sama diri sendiri. Inilah yang jadi pupuk subur buat penyakit kayak iri, dengki, dan rasa kurang bersyukur.

Tapi tenang, sahabat! Islam itu agama yang solutif. Ada banyak Tips dari Al-Qur’an dan Sunnah yang bisa kita praktikkan. Yuk, kita bedah satu-satu cara menjaga hati biar tetap kinclong dan penuh syukur.

6 Jurus Ampuh Cara Menjaga Hati

1. Zikir, Koneksi Langsung Biar Hati Adem

Hati kita itu didesain untuk selalu terkoneksi dengan Penciptanya. Kalau jauh dari Allah, otomatis hati jadi gelisah, galau, merana. Ini sudah jadi rumus pabrik dari Allah SWT.

“…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah (zikir), hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Zikir itu bukan sekadar komat-kamit sahabat. Zikir adalah cara kita me-restart pikiran, mengingatkan diri kalau semua yang kita punya dan alami itu datangnya dari Allah. Dengan sering berzikir, hati jadi lebih mudah nerima takdir, nggak gampang sirik lihat pencapaian orang, dan lebih sabar pas diuji. Inilah langkah pertama yang paling dasar dalam cara menjaga hati.

2. Biasakan Merenenungi Nikmat yang Sudah Ada

Kita sering banget terjebak fokus sama apa yang belum kita punya, sampai lupa sama segudang nikmat yang sudah ada di depan mata. Sahabat, coba deh renungin sejenak, hari ini kita masih bisa napas gratis, punya atap di atas kepala, bisa makan, dan punya orang-orang yang sayang sama kita. Itu semua nikmat yang tak ternilai lho! Ini adalah cara menjaga hati agar tidak kufur nikmat.

3. Pilih Circle yang Sehat, Bukan yang Toxic

Percaya deh, lingkungan itu ngaruh banget ke kondisi hati kita. Kalau kita sering nongkrong sama orang-orang yang isinya cuma ngeluh, julid, atau pamer melulu, lama-lama hati kita bisa ikutan keruh. Energi negatif itu menular, sahabat.

Sebaliknya, kalau kita deket sama orang-orang saleh yang tiap ketemu ngingetin kita tentang kebaikan, tentang Allah, hati kita jadi ikutan adem. Rasulullah SAW pernah membuat perumpamaan yang keren banget:

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Intinya, teman baik akan menularkan ‘wangi kebaikannya, sementara teman buruk bisa menularkan percikan api keburukannya. Jadi, selektif memilih teman adalah bagian krusial dari cara menjaga hati.

4. Ubah Perspektif, Dunia Buat Nunduk, Akhirat Buat Nengok ke Atas

Prinsip ini adalah turunan dari hadis di poin kedua, tapi penting banget buat diulang.

  • Urusan Dunia (harta, jabatan, popularitas): Selalu lihat ke bawah. Saat kita ngerasa mobil kita butut, ingat ada jutaan orang yang setiap hari harus berdesakan di transportasi umum. Saat kita ngerasa gaji kita kecil, ingat ada yang berjuang buat bisa makan hari ini.
  • Urusan Akhirat (ibadah, ilmu, akhlak): Selalu lihat ke atas. Saat kita merasa sudah cukup salat lima waktu, lihatlah mereka yang rajin tahajud. Saat kita merasa sudah cukup sedekah, lihatlah mereka yang mewakafkan hartanya.

Mindset ini adalah cheat code buat bikin hati lapang dan semangat berbuat baik terus-menerus.

5. Perbanyak Sedekah dan Kebaikan Kecil

Sedekah itu bukan cuma membersihkan harta, tapi juga mencuci hati kita. Saat kita memberi, kita belajar empati. Rasa empati inilah yang mengikis sifat kikir, sombong, dan egois. Hati pun jadi lebih lembut. Bahkan Allah menjanjikan balasan yang luar biasa bagi orang yang gemar bersedekah, sebagaimana firman-Nya:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki…” (QS. Al-Baqarah: 261)

Sedekah nggak melulu soal uang. Senyum tulus, bantu teman yang lagi ribet, atau sekadar ngasih ucapan semangat itu juga sedekah.

6. Selalu Bersyukur Dalam Setiap Keadaan

Sahabat, kunci pamungkas dari hati yang damai adalah bersyukur dalam segala kondisi. Bukan cuma pas lagi seneng, tapi juga pas lagi diuji. Orang yang suka bersyukur akan sulit merasa iri dan marah, karena dia yakin 100% bahwa semua skenario dari Allah itu pasti yang terbaik.

Latih lidah dan hati kita buat bilang Alhamdulillah, bukan hanya saat dapat bonus, tapi juga saat ban motor bocor di tengah jalan. Kenapa? Karena di balik setiap kesulitan, pasti ada hikmah atau penggugur dosa.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…'” (QS. Ibrahim: 7)

Baca Juga: Saat Pikiran Lagi Rame, Gini Caranya Biar Hati Tetap Tenang

Kesimpulan

Jadi, sahabat, menjaga lisan tanpa menjaga hati itu ibarat ngepel lantai tapi keran airnya masih bocor terus. Cuma capek doang, masalahnya nggak selesai. Cepat atau lambat, kotoran dari hati itu pasti akan keluar juga lewat lisan.

Maka, yuk kita geser fokus kita. Mulailah dari akarnya. Dengan memperbanyak zikir, memilih circle yang positif, mengubah cara pandang, dan memperbanyak sedekah, insyaAllah hati kita akan jadi lebih bersih dan terawat.

Ingat, sahabat, hati yang lapang akan melahirkan lisan yang menenangkan dan perbuatan yang mendamaikan. Itulah mengapa cara menjaga hati adalah fondasi utama untuk kehidupan yang penuh syukur dan keberkahan.

Nah, Inilah Saatnya Mengubah Rasa Syukur Jadi Aksi Nyata!

Ngomongin soal sedekah dan bikin hati lapang, kadang kita bingung mau mulai dari mana. Kita pengen berbuat baik, tapi nggak tahu harus ke mana. Nah, sahabat, rasa syukur itu paling nikmat kalau diwujudkan dalam aksi nyata yang bisa bikin orang lain tersenyum.

Kenalan yuk sama Yayasan Senyum Mandiri! Mereka adalah jembatan kebaikan yang fokus membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan, terutama anak-anak yatim dan dhuafa.

Bayangin deh, rasa syukur kita karena masih bisa makan enak hari ini, kita wujudkan dengan berbagi sepiring nasi untuk mereka. Rasa syukur kita punya tempat tinggal nyaman, kita salurkan untuk membantu mereka punya kehidupan yang lebih layak. Ini bukan cuma soal memberi, tapi ini adalah cara menjaga hati yang paling praktis. Dengan membantu mereka, hati kita jadi lebih lembut, lebih peka, dan pastinya lebih bersyukur atas apa yang kita miliki.

Yuk, ubah rasa syukurmu jadi senyuman untuk mereka. Nggak perlu nunggu kaya raya kok. Berapapun donasimu akan sangat berarti.

Klik disini atau scan QR barcode dibawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Barcode Nomer CS 2025 (Yuli)

“Menebar Sejuta Kebaikan”

Tinggalkan komentar