Kisah Perang Khandaq, Saat Sebuah Parit Membuat 10.000 Pasukan Sekutu Tak Berkutik

Selain kisah perang Badar dan perang Uhud, kisah perang Khandaq juga tidak kalah menegangkan dan kerap membuat takjub karena strategi yang diterapkannya. Nama perang ini diambil dari kata ‘Khandaq’ yang memiliki arti ‘Parit’.

Pada kisahnya, Umat Muslim di Madinah setuju untuk menggali parit yang mengelilingi kota mereka. Parit yang akan dijadikan sebagai bagian strategi umat Muslim itu memiliki panjang sekitar 5.544 meter, lebar 4.62 meter, dan kedalaman 3.2 meter.

Dikisahkan pada 5 Hijriyah atau tahun 627 Masehi, pasukan Muslim di Madinah harus melawan pasukan sekutu kaum Yahudi dan Quraisy. Pasukan sekutu terdiri dari Bani Nadhir, Bani Quraidzah, Kaum Quraisy, dan Kaum Ghatafan.

Penyebab Terjadinya Kisah Perang Khandaq

Kisah pertempuran ini bermula saat popularitas agama Islam di Madinah yang melonjak naik sehingga mengancam eksistensi ajaran Yahudi serta agama kaum Quraisy di Jazirah Arab.

Di samping itu, kaum Ghafatan berkeinginan untuk memonopoli perdagangan kembali di Madinah. Tidak hanya itu, para sekutu musuh berhasrat untuk membalas kembali kekalahan di pertempuran-pertempuran sebelumnya di mana mereka harus menelan pil pahit kekalahan.

Kisah Perang Khandaq, Parit yang Menghalau Musuh

Sama seperti perang besar lainnya, perang Khandaq terjadi dengan perbandingan jumlah pasukan yang tidak setara. Kaum Muslim hanya mengerahkan 3.000 prajurit saja, sedangkan gabungan pasukan sekutu berjumlah sekitar 10.000 orang.

Sama seperti perang-perang sebelumnya, nabi Muhammad SAW menjadi pemimpin pada perang kali ini. Di lain sisi, pasukan sekutu dipimpin oleh Abu Sufyan.

Pada kisah perang Khandaq, diceritakan bahwa sebelum berperang, kaum Muslim melakukan musyawarah untuk menentukan strategi terlebih dahulu. Kemudian disepakati, bahwa kaum Muslim akan menerima usulan Salman Al-Farisi untuk menggali parit disekitaran Madinah.

Penggalian memakan waktu sebanyak 6 hari di utara kota Madinah. Adapun para anak-anak, wanita dan orang tua ditempatkan dalam sebuah benteng selama perang berlangsung.

Strategi yang diusulkan oleh Salman itu terbukti efektif. Pada 31 Maret 627 M pasukan sekutu tiba di kota Madinah. Namun alangkah terkejutnya mereka saat melihat sebuah parit besar yang mengelilingi kota tersebut.

Kekalahan Pasukan Sekutu pada Kisah Perang Khandaq

Pasukan Abu Sufyan yang kebanyakan mengandalkan pasukan kavaleri (prajurit berkuda) itu, tak berkutik dihadapan parit besar buatan kaum Muslim. Alhasil, meski mereka telah mengepung kota Madinah selama 27 hari, mereka tetap tidak dapat menembus parit tersebut.

Namun, salah satu orang dari pasukan musuh, yakni Amr bin Wadd yang konon dikenal sangat kuat, berhasil menembus parit buatan kaum Muslim. Amr pun berduel sengit dengan Ali bin Abi Thalib tetapi pada akhirnya Amr pun harus tumbang.

Perang Khandaq pun selesai dengan ditandainya kekalahan Amr bin Wadd. Alhasil, pasukan musuh pun harus menelan pil pahit dengan kembali pulang ke Mekkah tanpa membawa kemenangan.

Kecerdikan merumuskan strategi memang menjadi salah satu kunci keberhasilan pada segala hal, termasuk perang. Seperti yang terdapat pada kisah perang Khandaq yang mengandalkan kecerdikan untuk membuat sebuah parit.

Satu pemikiran pada “Kisah Perang Khandaq, Saat Sebuah Parit Membuat 10.000 Pasukan Sekutu Tak Berkutik”

Tinggalkan komentar